Muksin, Sang "Penjaga Gerbang Agraria" di Bumi Cengkeh
LANGKAH mewujudkan keadilan agraria di Kabupaten Tolitoli kini bertumpu pada komitmen Muksin, S.SiT. Harapan itu tergambar dari belasan warga yang memadati ruang pertemuan saat fasilitasi konflik lahan yang melibatkan warga di dua kecamatan Lampasio dan Ogodeide Kabupaten Tolitoli, Kamis 4 Juni 2026.
Di hadapan forum, Muksin tidak menampik bahwa problem pertanahan di Bumi Cengkeh terbilang pelik. Kendati demikian, ia optimis kebuntuan bisa diurai. Kuncinya, menurut Muksin, adalah kolaborasi erat dengan semua pihak, terutama warga, demi menyelesaikan konflik yang ada secara bertahap.
Julukan "Penjaga Gerbang Agraria" tampaknya bukan hiasan belaka bagi Muksin. Karirnya yang panjang ditempa di wilayah-wilayah dengan konflik agraria yang tajam. Sebelum menakhodai Kantah Tolitoli, sosok murah senyum ini merupakan figur penting di balik suksesnya resolusi konflik lahan berbasis skema Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) saat bertugas di BPN Kabupaten Sigi.
Ia jugaterlibat langsung dalam redistribusi tanah di Kabupaten Sigi. Sebuah proses pembagian lahan bentukan negara yang diserahkan langsung kepada rakyat yang memenuhi syarat, seperti petani gurem, buruh tani dan masyarakat ekonomi lemah, lengkap dengan sertifikat hak milik resmi.
Menyimak penyampaiannya sepanjang forum fasilitasi bersama Satuan Tugas Penyelesaian Konflik Agraria (Satgas PKA) Sulteng, tampak jelas bahwa tokoh yang belum genap setahun menakhodai Kantah Kabupaten Tolitoli ini menguasai anatomi problem agraria secara detail. Setiap kegelisahan warga diresponsnya dengan bahasa yang lugas.
Pilihan katanya yang sederhana mampu menyederhanakan isu pertanahan yang rumit menjadi mudah dicerna.
Ketua Harian Satgas PKA Sulteng, Eva Bande, yang pernah bermitra dengan Muksin di Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) Kabupaten Sigi, mengakui kapasitas koleganya tersebut. Menurut Eva, Muksin tidak hanya hafal regulasi di atas kertas, tetapi juga sangat memahami karakter dan akar konflik agraria di Sulawesi Tengah.
"Beliau adalah tandem yang bagus. Paham betul bagaimana mengurai benang kusut konflik pelik, baik yang melibatkan warga versus korporasi maupun warga versus negara," puji Eva.
Kini, melalui kerja-kerja Satgas PKA Sulteng, Eva kembali dipertemukan dengan Muksin. Eva menaruh harapan besar agar sengkarut pertanahan yang telah menahun di Bumi Cengkeh tersebut bisa secepatnya dituntaskan.
Komitmen itu pun dibuktikan Muksin malam ini. Sejak pukul 09.00 WITA hingga jam menunjukkan pukul 21.00 WITA, ia tetap bertahan mendampingi warga dan tim Satgas demi merumuskan rekomendasi yang tidak hanya berpihak pada keadilan rakyat, tetapi juga kokoh secara regulasi pertanahan nasional. ***