08 June 2026 • Admin Satgas KPA • Umum

Wagub Reny Lamadjido Minta Ilmu Didapatkan di Satgas Diterapkan di Masyarakat

Wagub Reny Lamadjido Minta Ilmu Didapatkan di Satgas  Diterapkan di Masyarakat
Wakil Gubernur Reny Lamadjido, memberikan wejangan saat pelepasan mahasiswa magang, di Satgas PKA Sulteng, Senin 8 Juni 2026.

WAKIL Gubernur Sulawesi Tengah, Reny Lamadjido menghadiri acara penarikan sembilan mahasiswa Magang Bermakna dari Fakultas Hukum Universitas Tadulako di ruang Satgas PKA, Senin 8 Juni 2026. Program magang di Satgas PK Sulteng ini sebelumnya telah berjalan sejak Februari hingga Juni 2026. Dua Dosen Fakultas Hukum ikut hadir pada prosesi yang berlangsung sederhana ini. Keduanya, Dwiki Putra Perkasa dan Ansyar Saleh.


‘’Terima kasih kepada segenap mahasiswa karena sudah mau bermagang di Satgas kami. Inilah tempat kami. Mungkin Adik-adik merasa tempat ini kurang memadai, tetapi yang terpenting adalah keakraban kita. Apa yang kalian dapatkan di sini, semoga bisa diterapkan di masyarakat. Hal-hal yang buruk dari sini cukup disimpan di dalam saja, sedangkan yang baik-baik dari Satgas silakan diceritakan kepada orang-orang di luar," pesan Reny Lamadjido kepada segenp mahasiswa magang.


Magang di Satgas PKA Sulawesi Tengah bukan hanya soal belajar prosedur mediasi atau pemetaan konflik agraria. Melalui satgas, saya banyak belajar tentang bagaimana tim bekerja menangani konflik yang telah berlangsung lama dan konsisten merugikan masyarakat kelas bawah.


Selama kurang lebih 4 bulan berproses di Satgas PKA SULTENG, saya menyaksikan secara langsung bagaimana konflik sebidang tanah dapat menjalar dan melahirkan konflik yang lebih kompleks. Konflik tersebut yang kemudian menjadi dasar kepayahan masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah akibat minimnya tanggung jawab koperasi hingga pemerintahan.


Setelah bekerja dan berproses bersama, saya memahami beberapa hal penting yang terkadang dianggap sepele oleh orang-orang yang berpenghasilan dari kegiatan eksploitasi SDA Ilegal, bahwa tanah atas Sumber Daya Alam yang mereka eksploitasi secara ilegal bisa saja menjadi suatu hal berharga yang secara turun temurun dimiliki oleh orang lain, bahwa tanah tersebut bisa saja merupakan satu-satu sumber penghidupan mereka dimasa lalu, kini, dan mendatang.


Tim Satgas mengajarkan pendekatan yang jarang terdokumentasi rapi: mendengar lebih lama, bicara lebih pendek, dan mempercayai bahwa setiap orang memiliki hak atas tanah mereka, bahwa mereka pantas menuntut pertanggung jawaban atas kerugian yang mereka terima dari tindakan sewenang-wenang orang lain yang mengeksploitasi tanah mereka.


Dari mereka, saya belajar bahwa resolusi konflik sejati tidak selalu menghasilkan kesepakatan tertulis, tapi cukup ketika masing-masing pihak mengesampingkan ego mereka dengan duduk dihadapan meja mediasi untuk menyelesaikan secara baik-baik.


Ketua Satgas PKA Sulteng, Eva Bande, mengatakan di bawah kepemimpinan Anwar Hafid dan Reny Lamadjido, pemerintah daerah terus berupaya mencari jalan keluar atas problem agraria yang dihadapi rakyat. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah sengaja membentuk unit kerja Satgas ini sebagai saluran bagi masyarakat untuk mencari keadilan ruang.

 

Ia juga menjelaskan pentingnya pemenuhan hak mendasar lainnya seperti sektor kesehatan dan pendidikan, yang sangat diharapkan masyarakat Sulawesi Tengah untuk terus berjalan. "Di sini kebetulan ada salah satu mahasiswa magang yang menjadi penerima program Berani Cerdas. Dia mendapatkan beasiswa tersebut tidak lama setelah kedua orang tuanya meninggal dunia," tutur Eva Bande.


Koordinator Magang, Dimas Saputra, mengaku bangga bisa berproses bersama rekan-rekannya selama magang di Satgas PKA Sulteng. "Di ruang kampus kami belajar banyak teori, namun dengan bekerja langsung di Satgas PKA, kami bisa mendapatkan hal yang lebih dari itu. Kami dapat memahami secara mendalam bagaimana permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat secara langsung," ujar Dimas.


Ia menambahkan bahwa dinamika di Satgas PKA memberikan ruang kerja yang kompetitif dan edukatif. "Terutama Ibu Eva selaku Ketua Satgas yang sudah membekali kami dengan pengetahuan serta cara-cara penyelesaian konflik agraria yang ada. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang hadir dan seluruh staf yang bertugas karena telah memberikan kami kesempatan berharga ini," ungkap Dimas.


Selama menjalani masa magang di Satgas, para mahasiswa terlibat langsung dalam berbagai aktivitas substantif. Mulai dari menyusun resume kasus agraria, melakukan dokumentasi, menata dokumen hingga mengikuti bedah kasus dan peninjauan lapangan. Satgas PKA sengaja melibatkan para mahasiswa ini agar dapat memahami secara langsung dinamika serta akar konflik lahan yang terjadi di daerah.


Dalam pelaksanaannya, para peserta magang didelegasikan ke sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah. Peninjauan lapangan ke Luwuk, Kabupaten Banggai, diikuti oleh Gray Qamila Sarai, Mey Mulyana, Dimas Saputra, dan Alfiz Zidan.


Sementara itu, untuk wilayah Morowali Utara, tim yang turun terdiri dari Tafta Al Hadar, Siti Aliza Ahnar A. Saru dan Nurvika Vauzia. Sedangkan untuk peninjauan ke Kabupaten Buol dan Tolitoli, tugas tersebut dipercayakan kepada Siti Aliza Ahnar A. Saru dan Mey Mulyana.


Berikut Testimoni Peserta Magang:


Mey Mulyana:


"Magang di Satgas PKA Sulteng memberikan pengalaman luar biasa. Saya bisa turun ke lapangan melihat langsung realitas konflik agraria yang selama ini hanya tersaji di media sosial. Di sini, saya belajar arti tanggung jawab dan kerja sama. Dari lubuk hati terdalam, terima kasih untuk Ibu Eva yang sangat mengerti kondisi saya. Berkat kebaikan dan izin beliau saat ibu saya sakit, saya bisa mendampingi ibunda tercinta hingga mengembuskan napas terakhir. Pengalaman dan kehangatan kemanusiaan ini takkan pernah saya lupakan."

 

 Tafta Al Hadar:


"Magang di Satgas PKA Sulteng memberikan saya pengalaman nyata dalam proses penyelesaian konflik agraria dan pendampingan langsung di lapangan. Terima kasih atas bimbingan serta kebersamaan yang luar biasa dari tim Satgas dan rekan-rekan mahasiswa hingga akhir masa magang ini."


Nurvika Vauzia:


"Lebih dari tiga bulan magang di Satgas PKA Sulawesi Tengah memberi saya pengalaman berharga. Saya tidak hanya belajar teknis penyelesaian konflik agraria dan administrasi pertanahan, tetapi juga memahami arti tanggung jawab, kedisiplinan, serta pelayanan tulus kepada masyarakat.


Terima kasih sebesar-besarnya kepada Ibu Ketua, para mentor, dan keluarga besar Satgas PKA atas bimbingan dan kesempatan berkembang ini. Hubungan hangat bersama rekan-rekan magang menjadi kenangan indah. Semoga Satgas PKA selalu lancar menjalankan tugas dan terus membawa keadilan bagi masyarakat."


Gray Qamila Sarai:


"Magang empat bulan di Satgas PKA Sulteng membuka mata saya bahwa sengketa tanah dapat menjalar menjadi konflik kompleks yang menyengsarakan masyarakat bawah akibat kelalaian korporasi dan birokrasi. Saya menyadari, lahan yang dieksploitasi secara ilegal sering kali merupakan satu-satunya sumber penghidupan turun-temurun warga.


Di sini, saya belajar pendekatan humanis yang jarang terdokumentasi: mendengar lebih lama, bicara proporsional, dan memercayai hak atas tanah rakyat. Resolusi konflik sejati bukan sekadar kesepakatan tertulis, melainkan momen saat para pihak bersedia menurunkan ego, duduk bersama di meja mediasi, dan menyelesaikan masalah secara adil."


Audry Christifar Sastrawidjaya


'Hari terakhir magang di Satgas PKA Sulawesi Tengah membawa kesan yang mendalam. Rasanya baru kemarin kami datang sebagai mahasiswa yang mencoba beradaptasi, namun kini perjalanan tersebut harus berakhir.


Selama empat bulan di sini, kami mendapatkan banyak pengalaman, pelajaran, dan cakrawala baru yang tidak bisa didapatkan hanya dari bangku kuliah. Kami belajar tentang esensi advokasi, kerja sama tim, serta bagaimana sebuah gerakan dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat yang menghadapi konflik agraria.


Terima kasih sebesar-besarnya kepada Ketua Harian Ibu Eva Bande, Gubernur Bapak Anwar Hafid, Wakil Gubernur Ibu Reny Lamadjido, serta seluruh staf Satgas PKA atas bimbingan, kepercayaan, dan ruang belajar yang luar biasa ini.


Kami memohon maaf jika ada sikap maupun perkataan yang kurang berkenan. Perjalanan magang ini mungkin telah usai, namun ilmu dan kenangan yang tertanam di sini akan selalu kami bawa untuk masa depan. Sukses selalu untuk Satgas PKA Sulteng!"


Siti Aliza Ahnar A. Saru:


"Satgas PKA bukan sekadar tempat magang biasa. Di sini, saya belajar banyak hal, tidak hanya soal pekerjaan, tetapi juga tentang tanggung jawab, kedewasaan, dan arti kebersamaan. Tempat ini telah menempah saya menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi dunia kerja yang sebenarnya.


Terkhusus kepada Ibu Ketua Satgas PKA, terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam karena telah menerima saya dan rekan-rekan. Di saat kami sempat bingung bagaimana harus beradaptasi di tempat baru, di sini kami justru diberi peluang lebar untuk mempelajari banyak hal baru.


Terima kasih atas setiap tawa di sela-sela kesibukan, setiap nasihat, bimbingan, bahkan setiap teguran yang mendidik. Bagi saya, suara tegas yang kadang dialamatkan kepada kami bukan sekadar kelantangan agar kami bergerak cekatan. Melalui ketegasan itulah, kami ditempa menjadi pribadi yang disiplin dan bertanggung jawab penuh atas setiap amanah yang diberikan."


Dimas Saputra:


"Pengalaman dan pengetahuan baru selama tiga bulan magang di Satgas PKA membuka ruang berpikir kritis saya terhadap permasalahan hukum yang terjadi di Sulawesi Tengah. Di sini, kami dihadapkan langsung pada realitas konflik agraria antara masyarakat dengan pihak perusahaan maupun pemerintah.


Melihat hak-hak masyarakat yang seharusnya dipenuhi justru dilanggar oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, membangun kesadaran mendalam bagi saya bahwa hukum tidak boleh sekadar menjadi tulisan di atas kertas. Hukum harus selalu hadir secara nyata untuk setiap orang, demi menegakkan esensi utamanya: memberikan keadilan, kepastian, dan kemanfaatan bagi masyarakat."

 

Alfiz Zidan:


"Magang di Satgas PKA menjadi pengalaman yang sangat keren dan tidak terlupakan bagi saya. Selama di sini, saya bisa merasakan langsung bagaimana dinamika dunia kerja yang sebenarnya, bukan sekadar melihat dari media sosial. Mulai dari pengalaman profesional, tekanan dunia kantor, hingga perjalanan dinas lapangan, semuanya saya rasakan langsung.


Sosok paling favorit bagi saya di Satgas PKA adalah Ibu Eva selaku Ketua Harian. Karakter beliau yang tegas dan to the point sangat luar biasa. Karakter jujur seperti ini tergolong langka dan sulit ditemui, karena kebanyakan orang cenderung berputar-putar saat menyampaikan sesuatu. Bagi saya, karakter tegas seperti inilah yang paling dibutuhkan untuk menjadi seorang pemimpin sejati."***

 

 


Berita Terkait

Warga Desa Londi Desak Operasional PT SPN Dihentikan Sementara
10 Jun 2026

Warga Desa Londi Desak Operasional PT SPN Dihentikan Sementara

PERWAKILAN warga Desa Londi, Kecamatan Mori Atas, Kabupaten Morowali Utara, mendesak agar operasional PT Sinergi Perkebunan Nusantara (PT SPN) di wilayah mereka dihentikan sementara. Desakan ini berlaku hingga perusahaan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Sikap tegas tersebut mengemuka dalam rapat yang berlangsung di ruang Satuan Tugas Penyelesaian Konflik Agraria (Satgas PKA) Sulawesi Tengah, Rabu 10 Juni 2026. Pertemuan tersebut dipimpin oleh Ketua Harian Satgas PKA Sulteng, Eva Bande, serta dihadiri oleh instansi teknis terkait, perwakilan warga, DPRD Kabupaten Morowali, dan pihak manajemen perusahaan.

Usai Fasilitasi Konflik di Kabupaten Buol, Satgas PKA Mediasi Konflik Agraria di Tolitoli
04 Jun 2026

Usai Fasilitasi Konflik di Kabupaten Buol, Satgas PKA Mediasi Konflik Agraria di Tolitoli

DALAM perjalanan kembali dari Kabupaten Buol, Satuan Tugas Penyelesaian Konflik Agraria (Satgas PKA) Sulawesi Tengah menggelar rapat monitoring di Kantor Pertanahan Kabupaten Tolitoli, Kamis, 4 Juni 2026. Pertemuan tersebut dilakukan untuk mengevaluasi perkembangan kerja Tim Fasilitasi PKA Kabupaten Tolitoli dalam menangani sejumlah konflik agraria yang masih berlangsung.